KPI Tegur Sinetron Dholim & Azab di TV Swasta

sinetron indosiar
sinetron indosiar

JurnalReporter, Jakarta – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberi peringatan kepada dua stasiun televisi yaitu MNC dan Indosiar terkait tanyangan religi Dzolim dan Azab.

Peringatan ini diberikan untuk menjawab sejumlah aduan yang diterima institusi tersebut, termasuk di sosial media. “Kemarin juga sudah komunikasi dengan salah satu stasiun televisi yang disebut itu, dan mereka sudah menurunkan programnya, mereka sudah tidak main konten-konten itu. Satu stasiun lainnya, kalau mereka masih main, maka harus diperketat, konten yang berpotensi menyinggung konten agama harus hati-hati menvisualkannya,” kata Nuning Rodiyah, Komisioner Bidang Isi Siaran KPI.

Aduan yang diterima KPI utamanya memprotes adegan-adegan perlakuan pada jenazah. “Jenazah yang jatuh, terlempar, hangus, dan yang seperti itu,” sambung Nuning.

“Akhirnya kita verifikasi. Karena ini persoalan jenazah, kita coba pendekatan pasal supranatural, ternyata tidak ditemukan pelanggaran. Tidak ada mayat yang bangkit dari kubur, mayat yang dikerubuti hewan-hewan, mayat tidak lengkap dan sebagainya, akhirnya pakai norma agama.”

Belakangan, sinetron dan FTV religi bertema azab memang jadi sorotan pengguna media sosial karena judul-judulnya yang bombastis. Salah satu episode Dzolim misalnya diberi judul, “juragan tahu bulat mati tergoreng dadakan, dikubur anget-anget”.

Sinetron Azab di Indosiar juga menggunakan narasi yang sama. “Pemakaman diterjang badai”, “jenazahnya keluar asap hitam”, atau “jenazahnya terjepit liang lahat saat gempa.”

BBC mencoba menghubungi Mega Kreasi Film, yang memproduksi sinetron Azab, namun pihaknya belum bersedia dimintai pendapat.

Seiring dengan diberikannya peringatan pada dua stasiun televisi, KPI juga sedang melakukan koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia untuk memberikan penilaian terhadap konten-konten sinetron religi.
Pasalnya KPI tidak punya kapasitas untuk memberikan penilaian menyangkut nilai-nilai keagamaan.

Dari masa ke masa, sinetron religi mengalami pasang surut.
Tetapi dalam hal tema, tidak ada perubahan berarti karena masih berkutat soal azab, kata Dosen Program Studi Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), Muzayin Nazaruddin.

Dalam riset yang diterbitkan tahun lalu, Nazaruddin menyebut banyak sinetron religi mengambil cerita dari majalah bergenre Islam mistis seperti Hidayah, Ghoib, dan Taubat – yang penjualannya laku keras. Survei AC Nielsen tahun 2014 misal, menyebut Hidayah menjadi majalah yang paling banyak dibaca saat itu.(bbc/red)

Sharing is caring!

Add Comment